Saat ini tidak terhitung banyaknya orang tua yang menderita stres karena tidak mampu menyekolahkan putra-putrinya. Untuk masuk sekolah, mulai TK, SD, SLTP, SLTA sampai ke perguruan tinggi, diperlukan banyak uang. Belum lagi untuk membeli seragam dan uang sumbangan untuk biaya rehabilitasi atau perbaikan sekolah. Jangan kaget --di tengah-tengah jumlah penganggur yang makin membengkak --kini kita dapati putra-putra usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
Untuk sekadar menghilangkan stres dan sebagai pelipur lara dalam suasana politik yang tidak pernah sepi dari konflik, sebaiknya kali ini kita mengangkat cerita-cerita humor. Bagi orang Betawi, humor punya fungsi sosial untuk melarikan diri dari kepedihan hidup, setidak-tidaknya untuk membangkitkan kembali rasa optimisme.
Refleksi rasa humor itu terlihat kental dari lakon-lakon lenong dan topeng Betawi. Bukan hanya itu. Masih banyak lagi seni Betawi kental dengan humor. Salah satunya adalah sahibul hikayat alias tukang dongeng. Mendengarkan sahibul hikayat ditanggung bisa mengendorkan urat syaraf.
Budaya Betawi tempo doeloe lahir dari pengaruh Parsi dan Timur Tengah, yang terkenal dengan kisah 1.001 Malam-nya. Tidak heran jika H Sofyan Jait yang saat itu berusia 65 tahun, sambil duduk di permadani dari malam sampai jelang Subuh, membawakan cerita-cerita demikian.