Begitu banyak perubahan yang dialami Sutini dalam menjalani kehidupan setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat, dua tahun lalu. Tepat pada 2014, perempuan 34 tahun ini memeluk Islam. Ia mengaku seperti terlahir kembali setelah memeluk Islam.
"Luar biasa, seperti lahir kembali," ujar Sutini kepada republika.co.id, akhir pekan lalu.
Belajar Ikhlas
Bungsu dari lima bersaudara mengaku, begitu banyak pembelajaran berharga yang didapatkan sejak berislam. Di antaranya, belajar ikhlas bahwa kehidupan hanya milik Allah, belajar sabar menghadapi setiap cobaan dalam hidup. Belajar patuh pada perintah-Nya dan tidak hanya mencari kesenangan duniawi serta banyak berbuat amal secara ikhlas juga salah satunya.
Baginya, setiap tarikan napas adalah hadiah dari Allah. Agama bukan sekadar identitas, melainkan bagaimana mempertanggunjawabkan apa yang sudah diperbuat dalam hidup.
Perjalanan sosok yang menganut ajaran Buddha sejak kecil ini mengenal Islam dimulai saat hijrah ke Jakarta untuk berkuliah. Selama berada di Pekanbaru, Riau, ia tumbuh di tengah keluarga penganut Buddha yang taat, meski ia mengenyam pendidikan formal di sekolah Katolik ternama di kota tersebut, dari jenjang TK hingga SMU.
Selama berada di Jakarta, sejak 2001, ia menempuh kuliah di salah satu kampus swasta. Ia berkuliah sambil bekerja di perusahaan swasta. Pada masa bekerja itu, ia sering diajak ke persekutuan doa agama Kristen oleh rekan kerja kerja selama satu tahun.
Ketika itu, ia hanya berpandangan bahwa hidup cukup menjadi manusia yang baik. Pengalaman ini membuatnya mengenal tiga agama lebih dekat, yaitu Katolik, Buddha, dan Kristen.
Baginya, setiap tarikan napas adalah hadiah dari Allah. Agama bukan sekadar identitas, melainkan bagaimana mempertanggunjawabkan apa yang sudah diperbuat dalam hidup.
Perjalanan sosok yang menganut ajaran Buddha sejak kecil ini mengenal Islam dimulai saat hijrah ke Jakarta untuk berkuliah. Selama berada di Pekanbaru, Riau, ia tumbuh di tengah keluarga penganut Buddha yang taat, meski ia mengenyam pendidikan formal di sekolah Katolik ternama di kota tersebut, dari jenjang TK hingga SMU.
Selama berada di Jakarta, sejak 2001, ia menempuh kuliah di salah satu kampus swasta. Ia berkuliah sambil bekerja di perusahaan swasta. Pada masa bekerja itu, ia sering diajak ke persekutuan doa agama Kristen oleh rekan kerja kerja selama satu tahun.
Ketika itu, ia hanya berpandangan bahwa hidup cukup menjadi manusia yang baik. Pengalaman ini membuatnya mengenal tiga agama lebih dekat, yaitu Katolik, Buddha, dan Kristen.
Perkenalan dengan Islam
Perkenalan dengan Islam bermula dari diskusi dengan rekan kerja. Diskusi seputar agama masing-masing inilah yang mendekatkannya kali pertama terhadap risalah Muhammad SAW ini. Meski, ia sadar betul, saat itu sama sekali belum tertarik.
Namun, suatu waktu, ia mengaku terusik permintaan teman Muslim untuk membaca sepenggal makna ayat suci Alquran, konon ayat ini kerap ia dengar sewaktu di bangku sekolah.
Perempuan kelahiran Bagan Siapi-api ini mulai menemukan ada ketidaksesuaian dari apa yang ia pelajari selama bersekolah dengan apa yang sebenarnya tertulis di kitab suci tersebut.
Terjadilah pergulatan batin, keyakinannya goyah. Ia mendapati kehidupan yang ia jalani selama ini tak sejalan dengan ayat-ayat tersebut. Ia pun kian giat berselancar di internet. "Nah, dari sini pergulatan batin saya," katanya.
Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan perempuan berdarah Tionghoa ini. Ia sampai sulit tidur, hilang nafsu makan, dan merasa keseharian di kantor dan rumah ada yang kurang hanya karena menemukan ada yang tidak sesuai dengan apa yang ia yakini.
Merasa tak puas, akhirnya ia gemar berdiskusi dengan teman-teman Muslim. Ia mendapat hadiah Alquran untuk dibaca maknanya dan menemukan sendiri jawaban atas kegamangan yang muncul.
Sutini mulai membaca Alquran dari surah pertama, yakni al-Baqarah. Hatinya mulai bergetar. Baginya, apa yang tertulis dalam Alquran berbeda jauh dengan keyakinannya selama ini. Muncul ketertarikan dalam dirinya terhadap agama ini. Meski masih resisten, ia tak dapat mengelak, ia benar-benar jatuh cinta dengan kitab suci ini, Alquran jelas dan runut.
Namun, suatu waktu, ia mengaku terusik permintaan teman Muslim untuk membaca sepenggal makna ayat suci Alquran, konon ayat ini kerap ia dengar sewaktu di bangku sekolah.
Perempuan kelahiran Bagan Siapi-api ini mulai menemukan ada ketidaksesuaian dari apa yang ia pelajari selama bersekolah dengan apa yang sebenarnya tertulis di kitab suci tersebut.
Terjadilah pergulatan batin, keyakinannya goyah. Ia mendapati kehidupan yang ia jalani selama ini tak sejalan dengan ayat-ayat tersebut. Ia pun kian giat berselancar di internet. "Nah, dari sini pergulatan batin saya," katanya.
Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan perempuan berdarah Tionghoa ini. Ia sampai sulit tidur, hilang nafsu makan, dan merasa keseharian di kantor dan rumah ada yang kurang hanya karena menemukan ada yang tidak sesuai dengan apa yang ia yakini.
Merasa tak puas, akhirnya ia gemar berdiskusi dengan teman-teman Muslim. Ia mendapat hadiah Alquran untuk dibaca maknanya dan menemukan sendiri jawaban atas kegamangan yang muncul.
Sutini mulai membaca Alquran dari surah pertama, yakni al-Baqarah. Hatinya mulai bergetar. Baginya, apa yang tertulis dalam Alquran berbeda jauh dengan keyakinannya selama ini. Muncul ketertarikan dalam dirinya terhadap agama ini. Meski masih resisten, ia tak dapat mengelak, ia benar-benar jatuh cinta dengan kitab suci ini, Alquran jelas dan runut.
Syahadat
Usai Lebaran, pertengahan 2013, Sutini semakin tekun mendalami Islam. Berbagai cara ia tempuh, dari internet hingga berdiskusi dengan teman Muslim. Tak butuh waktu lama bagi Sutini, kurang lebih satu bulan sampai akhirnya memutuskan ingin segera berikrar syhadat.
Sutini menyampaikan keinginan itu kepada teman Muslimnya. Di bawah bimbingan Mualaf Center Indonesia (MCI), awal 2014 ia memeluk Islam. Adaptasi perlahan ia lakukan, meski telah bersyahadat, ia belajar tata cara beribadah dari teman Muslim dan mengaji kepada ibu kos, tempat ia tinggal.
Hingga kini, ia masih tetap belajar, tidak hanya melalui MCI, tetapi ia bisa belajar lebih konsisten lagi kepada suami yang ia nikahi tiga bulan lalu. Satu harapannya saat ini, Allah memberikan kepadanya kesempatan untuk mengunjungi Baitullah, Makkah, entah untuk umrah atau berhaji. Dengan demikian, pengalaman spiritualnya akan semakin lengkap.
Sutini menyampaikan keinginan itu kepada teman Muslimnya. Di bawah bimbingan Mualaf Center Indonesia (MCI), awal 2014 ia memeluk Islam. Adaptasi perlahan ia lakukan, meski telah bersyahadat, ia belajar tata cara beribadah dari teman Muslim dan mengaji kepada ibu kos, tempat ia tinggal.
Hingga kini, ia masih tetap belajar, tidak hanya melalui MCI, tetapi ia bisa belajar lebih konsisten lagi kepada suami yang ia nikahi tiga bulan lalu. Satu harapannya saat ini, Allah memberikan kepadanya kesempatan untuk mengunjungi Baitullah, Makkah, entah untuk umrah atau berhaji. Dengan demikian, pengalaman spiritualnya akan semakin lengkap.
Silaturahim
Keputusan Sutini menjadi mualaf tidak mendapat dukungan penuh dari keluarga besar. Khususnya, kedua orang tua dan beberapa saudara kandungnya. Meski restu telah ia dapat dari sejumlah saudara kandung, orang tuanya masih belum menerima.
Akibat penolakan dari keluarga inti tersebut, Sutini memutuskan keluar dari rumah. Sebagian keluarganya memang ada yang tak mempersoalkan, terutama paman, bahkan ia mendapat dukungan. Ketika hendak menikah pada November lalu, Sutini mendatangi pamannya untuk memperoleh restu dari pihak keluarga.
Kendati demikian, Sutini tak akan pernah memutus tali silaturahim dengan kedua orang tuanya. Sebagai anak, ia akan selalu hormat dan menjalin kedekatan. Ia berharap, hubungannya dengan kedua orang yang ia kasihi dan hormati itu membaik seperti sedia kala.
Komunikasi bisa berjalan lepas tanpa ada jarak."Aku akan selalu berusaha mewujudkannya," tuturnya. Upayanya itu pun mendapat dukungan dari sesama Muslim, baik dari MCI atau suaminya. Ia sadar bahwa segala sesuatu berproses, tak terkecuali restu kedua orang tuanya tak bisa diperoleh secara instan.
Akibat penolakan dari keluarga inti tersebut, Sutini memutuskan keluar dari rumah. Sebagian keluarganya memang ada yang tak mempersoalkan, terutama paman, bahkan ia mendapat dukungan. Ketika hendak menikah pada November lalu, Sutini mendatangi pamannya untuk memperoleh restu dari pihak keluarga.
Kendati demikian, Sutini tak akan pernah memutus tali silaturahim dengan kedua orang tuanya. Sebagai anak, ia akan selalu hormat dan menjalin kedekatan. Ia berharap, hubungannya dengan kedua orang yang ia kasihi dan hormati itu membaik seperti sedia kala.
Komunikasi bisa berjalan lepas tanpa ada jarak."Aku akan selalu berusaha mewujudkannya," tuturnya. Upayanya itu pun mendapat dukungan dari sesama Muslim, baik dari MCI atau suaminya. Ia sadar bahwa segala sesuatu berproses, tak terkecuali restu kedua orang tuanya tak bisa diperoleh secara instan.